RSS

Lemak Vs Karbohidrat

16 Mar

Morning Bunda,  how are you today?

manfaat

Suatu pagi di sebuah kantin,  selepas mengantar anak ke sekolah,  saya bercerita kepada beberapa ibu yang juga menemani anaknya bersekolah.  ” Kemarin siang,  saya bikinin anak2 setoples kulit ayam goreng krispi. Si adek lagi susah makan, tapi begitu melihat gorengan, langsung abis nasi sepiring, dimakan sendiri bareng kakaknya. Sambil megangin kulit ayam, digigitin kayak yang nikmat banget sampe abis setengah toples, hihi..”

Para ibu langsung ‘nimbrung, “Wah, pasti lahap banget!” “Mau beli dong, teh, kulit dua pak. Anakku juga lagi susah makan” Dan dua orang lagi ikut pesan kulit. Asiiik laris manis :)

Tiba2 seorang ibu berkomentar, “Saya mah paling ngga ngebolehin anak makan kulit ayam, banyak lemaknya”, katanya sambil melahap mie instannya. Ibu2 memang suka sekali sarapan di kantin ini, dan terus ‘ngemil sambil ‘ngobrol menunggu anak2 yang selesai sekolah dalam 2jam kedepan.

Saya tersenyum kearahnya, sambil sedikit mengernyit melihat porsi makan si ibu; semangkok mie instan, sepicin nasi putih, dengan lauk bala2 (=bakwan) dan gorengan tempe…

Bunda, tahukah bahwa selama bertahun-tahun ini, lemak dituding sebagai penyebab utama kegemukan? Lalu, apakah tanpa lemak dan banyak mengkonsumsi karbohidrat, badan akan langsing? Si ibu diatas tidak tuh, padahal nampaknya sarapannya tanpa lemak (kecuali minyak jenuh yang melumuri gorengan bakwan dan tempenya), hanya karbohidrat di nasi+mie rebus+tepung yang banyak menutupi sedikit wortel+kubis dalam bakwan dan secuil tempenya.

Saya pernah membaca sebuah artikel, demikian petikannya, “Terlepas dari kenyataan bahwa makanan hambar dan bebas lemak sedang ditanamkan pada publik Amerika, tetap saja mereka semakin gemuk. Televisi tetap berusaha meyakinkan bahwa makanan tanpa lemak dapat membuat langsing dan sehat. Jadi dalam upayanya melakukan sesuatu yang “benar’, kebanyakan orang menghindari semua kandungan lemak dari makanan mereka dan sungguh mengherankan mengapa berat badan mereka tetap tidak berkurang”

Nah kan, menghindari lemak pun tetap tidak bikin langsing😀

Lalu saya bertanya2 lagi, apa karbohidratnya saja yang dikurangi? Dan ini petikan satu artikel lagi yang saya temukan, “Pengurangan konsumsi karbohidrat, bukan berarti menghentikan proses pembakaran dalam tubuh. Proses pembakan dalam tubuh tetap berjalan, dan konsekuensinya adalah tubuh akan terus mengeluarkan cairan. Dalam menurunkan berat badan, pengeluaran air ini seharusnya tidak terjadi, karena yang dibutuhkan adalah pengeluaran lemak”

Lah, diet karbo koq juga ngga menyelesaikan masalah ya..?

Bunda, disini saya berkesimpulan, bahwa tercipta yang namanya 4 sehat 5 sempurna itu ya memang pasti sudah dipikirkan dengan baik konsepnya. Bahwa satu dengan lain saling melengkapi. Jadi baiknya, ya semua dimakan🙂

Saya rasa, tidak salah kok memberikan makanan berlemak ke anak (bahkan untuk kita), semasa lemaknya yang baik -dalam hal ini, kebetulan saya tahu bahwa kulit ayam yang saya goreng krispi untuk anak2, lebih tinggi kandungan asam lemak omega3 yang baik untuk pertumbuhan- dan tentu saja berasal dari ayam probio yang diternakkan dengan perlakuan khusus sehingga ususnya lebih sehat. *saya lupa, pernah baca dimana ya, kalau 70-80% penyakit itu sumbernya dari usus. makanya banyak minuman ber-probiotik :p

Dan tidak salah juga siy, makan karbohidrat banyak, tapi ya juga jangan berlebih. Karena ternyata, “Karbohidrat masuk kedlm tubuh melalui makanan berubah menjadi glukosa dlm darah, tubuh memproduksi insulin yang bertugas untuk mengangkut glukosa dari dlm darah menuju terminal I ( organ hati ). Organ hati memiliki kapasitas penampungan yang kecil sehingga mudah terisi penuh, apabila glukosa dlm darah masih banyak, maka insulin akan mengangkut sisa glukosa ke terminal II ( otot ), otot memiliki kapasitas menampung yang cukup besar tergantung dari massa otot orang tersebut. Jika otot tidak bisa menampung glukosa lagi, maka insulin akan mengangkut sisanya ke penampungan terakhir ( sel lemak ) yang merupakan tempat penampungan terbesar dlm tubuh kita. Akibatnya jika terlalu banyak karbohidrat yang tidak terpakai maka sel lemak kita akan terus membesar, itulah yang mengakibatkan kenaikan berat badan dan kegemukan”

Hmm, bingung ya..? Saya juga, hehe.. Tapi kurang lebih, mungkin rumusan yang baik seperti ini :

Lemak rendah = karbohidrat tinggi

Makanan rendah lemak berarti karbohidrat tinggi. Dan karbohidrat tinggi pada akhirnya menyebabkan gula darah rendah. Ketika gula darah turun, tubuh berada dalam kondisi penyimpanan, dan metabolisme akan menurun.

Ketika mengonsumsi makanan karbohidrat tinggi,  kita memicu pelepasan insulin, yang memerintahkan tubuh untuk menyimpan lemak. Belum lagi tingkat energi menurun seiring turunnya gula darah, jadi jika mengonsumsi makanan karbohidrat tinggi, kemungkinan besar kita akan kekurangan energi yang dibutuhkan untuk berolahraga.

Lemak baik di setiap makanan yang dapat membantu menjaga kadar gula darah stabil. Hal ini akan memaksimalkan metabolisme dengan menyediakan pasokan bahan bakar bagi tubuh  untuk membakar energi sepanjang hari.

Lemak rendah = protein rendah

Orang yang melakukan diet rendah lemak biasanya menghindari makanan berprotein hewani karena mengandung lemak jenuh. Ini bukan pilihan yang bijaksana karena satu-satunya sumber protein terlengkap di alam berasal dari hewan. Tidak mendapatkan cukup protein dalam makanan dapat menyebabkan gejala seperti kelemahan, kelelahan, rambut dan kuku kering dan rapuh, lambatnya penyembuhan luka, infeksi kronis, dan masalah penanganan gula.

Tanda lain kekurangan protein, sulit membentuk otot. Seringkali orang yang melakukan diet rendah lemak hampir tidak mungkin dapat menurunkan berat badan atau membentuk otot, tidak peduli apapun yang mereka lakukan. Meskipun mereka berusaha melakukan latihan dua jam sehari, empat kali seminggu, banyak pelaku diet mengeluh gagal melihat hasil dari semua kerja keras mereka di depan cermin. Alasannya hanyalah mereka kekurangan protein yang dibutuhkan untuk membentuk otot yang kuat.

Asam amino yang berasal dari protein kita gunakan untuk membuat neurotransmitter (substansi kimia otak) yang benar-benar membantu mengendalikan nafsu makan, mengurangi ketagihan, dan menyeimbangkan perubahan suasana hati.

“Anda mungkin telah mengetahui sekarang jika menghindari lemak tidak membuat tubuh Anda ‘meleleh’ secara ajaib. Yang benar adalah mengonsumsi lemak tidak membuat Anda gemuk. Bahkan, Anda tidak perlu merasa bersalah ketika Anda mengonsumsi lemak karena lemak penting bagi kesehatan.

Lebih dari 65 persen otak manusia berisi lemak. Hormon kita terbuat dari lemak, demikian juga dengan lapisan luar setiap sel dalam tubuh. Lemak menjaga kesehatan kulit, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menstabilkan gula darah, dan mencegah diabetes. Lemak baik bermanfaat bagi jantung, menormalkan lemak darah dan kolesterol, dan bahkan mencegah kanker!”

Jadi kesimpulannya, daripada tubuh lemas, metabolisme menurun dan malah jadi sakit, yuk kita seimbangkan konsumsi karbo dan lemak dalam makanan (sudah pasti, protein dan vitamin juga dibutuhkan, namanya juga 4 sehat 5 sempurna :p). Tapi maksud saya, jangan salahkan lemak lagi untuk masalah kegemukan, karena ternyata kita butuh loh. Juga jangan berlebihan atau kekurangan juga karbo, walaupun kombinasi makan nasi-mie-tepung untuk sarapan nampaknya too much😀

*dari berbagai sumber artikel

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2013 in Kumpulan Artikel

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: